3 Gaya Makan Favorit Bayi

Selasa, 20 Juni 2017 | 13:26 WIB

Waktunya makanan padat pertama! Bersiaplah untuk sedikit berantakan dan kotor-kotoran. Dan yang paling penting, tingkatkan kesabaran Bunda...
Tidak perlu cepat merasa bersalah, bahkan kesal, saat si 6 bulan Bunda mulai menolak suapan demi suapan. Mungkin saja, cara Bunda memberi ia makan tak sesuai dengan gayanya.
Ya, bayi ternyata punya gaya makan favorit, lho. Dan bila klop, maka ia pun akan lebih lahap menghabiskan makanannya. Tentu saja, untuk menemukan yang pas, Bunda perlu lebih jeli mengenali berbagai gaya makan bayi.
 
- DISUAPI -


Menyodorkan sendok berisi puree buah dan sayur ke mulut bayi adalah cara yang kerap dipakai.
The American Academy of Paediatrics menyarankan, mulailah dengan setengah sendok kecil yang cenderung pipih, atau kurang dari itu, dan ajak bayi berbicara selama proses menyuapi. Tujuannya, agar si kecil merasa nyaman saat menelan makanan.

Ikuti aturan mainnya:


- Dudukkan bayi di kursi makannya, atau di pangkuan Bunda, dengan kepala tegak agar tidak tersedak. Jika menggunakan kursi makan bayi, jangan lupa kencangkan sabuk pengamannya agar anak tetap berada pada posisinya. Namun pastikan ia tetap bisa menggerakkan lengan dan kepalanya dengan bebas.
- Singkirkan mainan di sekitar si kecil, dan hindarkan menyuapi sambil menonton TV. Kedua hal itu bisa mengganggu konsentrasi si kecil saat mengunyah dan menelan. Bunda bisa meletakkan mangkuk berisi makanan di hadapannya.

Menurut Dr. Rana Conway, ahli gizi asal Australia, bayi akan lebih semangat melahap makanan yang Bunda sodorkan jika ia bisa melihat apa yang ia makan, serta membaui makanan itu. Bukan cuma rasa makanan saja yang penting, lho.

- Posisikan makanan di mulut dengan benar. Bunda bisa memasukkan makanan itu sampai kira-kira menyentuh bagian tengah langit-langit mulutnya. Biasanya, si kecil akan mengatupkan mulutnya dan langsung menelan.

- Siapkan air putih untuk diminum sehabis makan.


- NYAMAN MAKAN SENDIRI -


Ada bayi yang memang menolak saat disuapi oleh Bunda, sehingga tak ada salahnya membiarkan ia makan sendiri. Makanan memang jadi akan lebih banyak tercecer daripada masuk ke mulutnya.
Meski begitu, belajar makan sendiri, biasanya begitu menginjak usia 7-9 bulan, merupakan salah satu tahap penting atau tonggak sejarah bayi dalam satu tahun pertamanya. Selain memberikan kepercayaan dan kemandirian kepada anak, menjumput dan memasukkan sendiri makanan ke mulut juga melatih kemampuan motorik halus, lho.
Jadi, relakan saja rumah yang berantakan dan kotor selama si kecil makan, ya, Bun. Bunda bisa memberikan si kecil makanan yang Bunda sekeluarga makan juga. Hanya saja, lakukan penyesuaian, seperti tidak menambahkan garam dan gula terlalu banyak ke dalam makanan.

Tips sukses makan sendiri:

- Masak makanan hingga lunak, agar lebih mudah dikunyah.
- Berikan dalam bentuk potongan berukuran kecil kira-kira seukuran jari (finger food), sehingga bisa ia pegang. Atau, Bunda juga bisa mengiris makanan tipis-tipis.
- Hindari terlalu banyak menyajikan makanan di piring dalam satu waktu, cukup 2-3 potong.
- Dampingi si kecil selama makan untuk menghindari bahaya tersedak.


- KOMBINASI KEDUANYA -


Saat menyuapi, sih, lancar-lancar saja, namun Bunda juga menyadari bahwa melatih kemampuan motorik halus si kecil bisa dilakukan lewat aktivitas makan yang menyenangkan.
Untuk itu, tak ada salahnya sesekali Bunda membiarkan si kecil melahap sendiri makanan yang disajikan, sambil sesekali Bunda suapi.
Keragaman nutrisi yang masuk ke mulut bayi tetap terjaga karena Bunda menyuapkannya langsung, dan ia pun berkesempatan mengenal berbagai tekstur makanan lewat sentuhan jari-jarinya, serta mengasah koordinasi yang baik antara mata, tangan dan otaknya.
Namun, Bunda juga perlu teliti agar porsi makanan yang disantap si kecil dalam sekali makan tak berlebihan.

Ini kiatnya:

- Bila Bunda sedang memberinya puree, dan mendapati ia memasukkan makanan pula ke mulut, segera hentikan perlahan aktivitas menyuapi. Biarkan ia meneruskan kesenangannya itu. Bunda dapat meletakkan beberapa finger food di piringnya.
- Gaya makan kombinasi seperti ini bersifat fleksibel. Bunda bisa menyuapinya agar lebih cepat ketika waktu Bunda terbatas, dan membiarkan si kecil makan sendiri ketika Bunda mempunyai waktu lebih banyak untuk menemaninya makan.

Bagikan ke :